Waktu yang berkuasa, Aku penderita
Melanie yang masih berusia 9 tahun harus menyaksikan
keadaan yang seharusnya tidak dilihat oleh anak seusianya. Pedih dan sakit yang
ia rasakan. Kejadian ini menjadi rumit dengan hadirnya sosok perempuan dewasa
yang belum pernah ia lihat, hadir disamping ayahnya. Wanita yang tergelatak
bersimbah darah di tengah rumah dengan sebilah pisau dapur di tangan kanannya.
Itu ibu, ibu yang selama ini menjaganya,yang selalu memberikan kata mutiara,
membuatkan susu coklat hangat sebelum Melanie tidur. Pikiran Melanie melayang
ketika mengingat kata-kata ibunya “ Hidup itu beresiko, sayang. Tapi lebih
beresiko jika kau tak mengambil risiko” diakhiri dengan elusan di pipi Melanie
kecil. Ia mengerti setelah menyaksikan ibunya seperti ini, resiko yang diambil
ibunya berakhir disini. Kenyataan yang Melanie ketahui adalah, ayahnya telah
berkhianat dan hari ini ulang tahun ibunya.
8 tahun
ia tinggal bersama ayah dan wanita asing yang harus ia panggil ibu. Tepat di
ulang tahunnya yang ke 17. Ayahnya memberikan ia apartemen. Melanie kecil
tumbuh dengan paras yang cantik. Rambut pirang, kulit pucat, dan memiliki warna
mata seperti ibunya, biru laut. Remaja yang mandiri. Kamar apartemennya ada di
lantai 3, cukup luas untuk seorang anak remaja yang hidup sendiri. Ia menyukai
warna pastel, damai. Warna-warna yang lembut mencerminkan dirinya.
Hari ini
adalah hari pertamanya masuk sekolah yang baru. Sekolahnya cukup dekat dengan
apartemennya. Ia hanya cukup berjalan sejauh 400 M. Hari itu hujan, dan dia tak
membawa payung. Berteduh dipinggiran toko adalah ide yang terdengar sangat
membantu waktu itu. “ Apakah hari pertamaku seburuk ini?” gumam Melanie sambil
menggosok kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Lelaki dengan tubuh cukup
tinggi berdiri di seberang toko yang di tempati Melanie. “memandangiku?”
pikirnya. Melanie menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada siapapun. Lelaki itu
terus melihat Melanie. 10 menit lagi kelas akan dimulai, ia akan terlambat
kalau terus menunggu hujan reda. Melanie berlari menerobos hujan. Lelaki
diseberangnya ikut berlari. “Ya tuhan.. ternyata ia penguntit!”
Lelaki
itu bernama Richie, rambut yang dibiarkan gondrong menjadi ciri khasnya, lelaki
keturunan Asia-Amerika, mata sipit dan hidung mancungnya, warna kulit
sawomatang seperti coklat karamel menjadi bagian terkeren dari dirinya. Aku
bukan penguntit ataupun mata-mata. Hanya lelaki penasaran dengan wanita yang
membiarkan roll rambut merah masih menempel di kepalanya.
Melanie
terus berlari, “hey.. “ teriak Richie. Melanie menoleh, berhenti sejenak.
Lanjut berlari. Hujan mulai reda, Melanie sudah sampai di gerbang sekolah.
“lelaki itu bersekolah disini juga?”. Hari pertama sekolah, basah kuyup,
dikejar lelaki tak dikenal. Untungya lelaki itupun sama, basah kuyup. Melanie
melewati koridor sekolah, mencari-cari ruang kelas.
“kelasku harusnya ada disekitar sini.” Melanie mencari.
“Sedang kebingungan” suaranya seperti bass, begitu tegas
dan lugas.
Melanie menoleh ke sumber suara.“sipenguntit tadi” dalam
hatinya. “eumm.. “
Lelaki itu memotong “kelas apa?”
“2B” jawab singkat Melanie.
“Baiklas kita sekelas, diujung koridor sana kelas kita”
tunjuk Richie.
“Kita? Aku satu kelas dengan si penguntit? Yang benar saja”
“Sorry..” ucap Richie sambil membuka roll rambut yang
masih menempel dikelapa Melanie.
“Kau lupa mencopotnya? Dari tadi ku coba beritahu”
“Oh my god!” pipi Melanie jadi warna merah jambu, ia
malu.
“Kamu manis jika pipimu merah” Richie berjalan melewati
Melanie.
Dikelas, guru mengenalkan Melanie di depan kelas. Ia anak
yang sangat pintar untuk menarik simpati orang, menjadi wanita yang ramah, itu
yang diinginkan ibunya.
Melanie memegang roll rambut merahnya, membayangkan tangan
kekar Richie yang menyentuh rambutnya. Rasanya seperti berasa di musim gugur,
tetapi tercium wangi tanah yang terkena air hujan. Wangi yang khas.
“Dia manis” gumam richie.
Melanie menoleh ke arah Richie. “Aku telah berburuk
sangka, perlukah minta maaf atau berterimakasih?”.
Bel pulang berbunyi. Sekarang Melanie mempunyai lokernya
sendiri. Nomor lokernya 21. Entah kebetulan atau mereka ditakdirkan. Loker
Richie bernomor 20.
Mereka bertemu di loker, Richie sudah duluan ada disana.
“Hey.. eum.. maaf dan terimakasih” kata Melanie sambil
menyelipkan rambutnya ketelinga.
“Untuk apa?” tanya Richie.
“Maaf karena aku berlari dan mengira dirimu penguntit,
terimasih untuk... me menunjukan kelasku”
“Itukan hanya kelasmu, kelasku juga” jawab cuek Richie.
“okay”
“tapi aku belum memaafkan tuduhanmu terhadapku” sinis
Richie
“kecuali...”
“kecuali apa?” tanya Melanie.
“ Lupakan..” jawab Richie
Sebulan kemudian, sesuatu mengejutkan Melanie. Terdengar
suara pintu dibanting dari kamar sebelah. Mereka pasangan suami istri, selalu
bertengkar, tapi tak pernah seheboh ini. Terdengar suara tangisan samar dari
wanita, dan suara lelaki yang terus memaki. Melanie teringat kejadian masa kecilnya,
hatinya terlalu rapuh dan terlalu rindu ibunya. Ia meneteskan air mata. Ingin
ia mengunjungi ayahnya, tetapi ia terlalu malas bertemu dengan perebut suami ibunya. Ia mengurungkan niatnya.
Richie terlalu penasaran dengan Melanie, ia mencari nama
Melanie Katheris Ahlers di instagram, facebook, twitter, dan path. Sulit sekali
menemukan akun sosialnya. Dia seorang yang introvert
pikirnya. Bertemu dikelas dan menanyakan langsung berapa nomor ponselnya
terlalu mudah untuk ditebak apa yang diinginkan seorang pria. Richie memikirkan
banyak taktik agar bisa mendapatkan nomor ponsel Melanie. Satu-satunya cara
adalah mencari berkas Melanie di ruang guru. Tapi itu seperti tindakan
kriminal. Tapi dia juga merupakan pelaku kriminal, dia pencuri. Mencuri hati
Richie.
Jam terakhir pelajaran Richie menyelinap ke ruang guru.
Benar saja, dia mencari berkas Melanie. “Gotcha!” kemudian meninggalkan ruang
guru.
Ponsel Melanie berdering. Melanie melihat benda yang
berbentuk kotak dengan warna pink pastel, handphone hadiah dari ibunya. Ada
telepon masuk dengan nomor tidak dikenal. Melanie mengangkatnya.
“Hai, are you okay?”
Melanie mengenal suaranya. “Richie?”
“Suara seksiku bisa dikenal olehmu” goda Richie
“Suaramu terlalu mudah ditebak”
“Nanti malam kau free?
Tanya Richie
“Yup, What’s up?
“Aku ingin memberimu sesuatu yang tersimpan dari dulu”
“dulu? Maksudmu?”
“Nanti kau mengetahuinya”
Richie berjanji dengan dirinya, kalau dia akan memberikan
sebuah buku romanis buatannya kepada wanita telah mencuri hatinya. Richie
mengendarai mobilnya menuju apartemen Melanie, melesat dengan cepat. Melanie
telah menunggu diluar apartemennya.
Richie melamunkan Melanie, ia tak fokus. Truk besar oleng
karena kecepatan mobil yang tak dapat dikendalikan. Menambrak mobil Richie.
Richie meninggal seketika. Melanie masih menunggu, sampai ada bunyi ponsel. Melanie
kira dari Richie ternyata dari orang asing yang memeberi tahu kalau Richie
sudah tiada. Melanie termenung. Antara percaya dan tidak. Masih bingung dengan
hadiah apa yang akan diberikan richie. Cover buku warna hitam dengan tulisan
putih Aku mati bila jatuh cinta masih
ada ditangan Richie.
