Minggu, 08 April 2018

Waktu yang berkuasa, aku penderita - Cerita Pendek


Waktu yang berkuasa, Aku penderita

Melanie yang masih berusia 9 tahun harus menyaksikan keadaan yang seharusnya tidak dilihat oleh anak seusianya. Pedih dan sakit yang ia rasakan. Kejadian ini menjadi rumit dengan hadirnya sosok perempuan dewasa yang belum pernah ia lihat, hadir disamping ayahnya. Wanita yang tergelatak bersimbah darah di tengah rumah dengan sebilah pisau dapur di tangan kanannya. Itu ibu, ibu yang selama ini menjaganya,yang selalu memberikan kata mutiara, membuatkan susu coklat hangat sebelum Melanie tidur. Pikiran Melanie melayang ketika mengingat kata-kata ibunya “ Hidup itu beresiko, sayang. Tapi lebih beresiko jika kau tak mengambil risiko” diakhiri dengan elusan di pipi Melanie kecil. Ia mengerti setelah menyaksikan ibunya seperti ini, resiko yang diambil ibunya berakhir disini. Kenyataan yang Melanie ketahui adalah, ayahnya telah berkhianat dan hari ini ulang tahun ibunya.
            8 tahun ia tinggal bersama ayah dan wanita asing yang harus ia panggil ibu. Tepat di ulang tahunnya yang ke 17. Ayahnya memberikan ia apartemen. Melanie kecil tumbuh dengan paras yang cantik. Rambut pirang, kulit pucat, dan memiliki warna mata seperti ibunya, biru laut. Remaja yang mandiri. Kamar apartemennya ada di lantai 3, cukup luas untuk seorang anak remaja yang hidup sendiri. Ia menyukai warna pastel, damai. Warna-warna yang lembut mencerminkan dirinya.
            Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah yang baru. Sekolahnya cukup dekat dengan apartemennya. Ia hanya cukup berjalan sejauh 400 M. Hari itu hujan, dan dia tak membawa payung. Berteduh dipinggiran toko adalah ide yang terdengar sangat membantu waktu itu. “ Apakah hari pertamaku seburuk ini?” gumam Melanie sambil menggosok kedua telapak tangannya agar merasa hangat. Lelaki dengan tubuh cukup tinggi berdiri di seberang toko yang di tempati Melanie. “memandangiku?” pikirnya. Melanie menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada siapapun. Lelaki itu terus melihat Melanie. 10 menit lagi kelas akan dimulai, ia akan terlambat kalau terus menunggu hujan reda. Melanie berlari menerobos hujan. Lelaki diseberangnya ikut berlari. “Ya tuhan.. ternyata ia penguntit!”
            Lelaki itu bernama Richie, rambut yang dibiarkan gondrong menjadi ciri khasnya, lelaki keturunan Asia-Amerika, mata sipit dan hidung mancungnya, warna kulit sawomatang seperti coklat karamel menjadi bagian terkeren dari dirinya. Aku bukan penguntit ataupun mata-mata. Hanya lelaki penasaran dengan wanita yang membiarkan roll rambut merah masih menempel di kepalanya.
            Melanie terus berlari, “hey.. “ teriak Richie. Melanie menoleh, berhenti sejenak. Lanjut berlari. Hujan mulai reda, Melanie sudah sampai di gerbang sekolah. “lelaki itu bersekolah disini juga?”. Hari pertama sekolah, basah kuyup, dikejar lelaki tak dikenal. Untungya lelaki itupun sama, basah kuyup. Melanie melewati koridor sekolah, mencari-cari ruang kelas.
“kelasku harusnya ada disekitar sini.” Melanie mencari.
“Sedang kebingungan” suaranya seperti bass, begitu tegas dan lugas.
Melanie menoleh ke sumber suara.“sipenguntit tadi” dalam hatinya. “eumm.. “
Lelaki itu memotong “kelas apa?”
“2B” jawab singkat Melanie.
“Baiklas kita sekelas, diujung koridor sana kelas kita” tunjuk Richie.
“Kita? Aku satu kelas dengan si penguntit? Yang benar saja”
“Sorry..” ucap Richie sambil membuka roll rambut yang masih menempel dikelapa Melanie.
“Kau lupa mencopotnya? Dari tadi ku coba beritahu”
“Oh my god!” pipi Melanie jadi warna merah jambu, ia malu.
“Kamu manis jika pipimu merah” Richie berjalan melewati Melanie.
Dikelas, guru mengenalkan Melanie di depan kelas. Ia anak yang sangat pintar untuk menarik simpati orang, menjadi wanita yang ramah, itu yang diinginkan ibunya.
Melanie memegang roll rambut merahnya, membayangkan tangan kekar Richie yang menyentuh rambutnya. Rasanya seperti berasa di musim gugur, tetapi tercium wangi tanah yang terkena air hujan. Wangi yang khas.
“Dia manis” gumam richie.
Melanie menoleh ke arah Richie. “Aku telah berburuk sangka, perlukah minta maaf atau berterimakasih?”.
Bel pulang berbunyi. Sekarang Melanie mempunyai lokernya sendiri. Nomor lokernya 21. Entah kebetulan atau mereka ditakdirkan. Loker Richie bernomor 20.
Mereka bertemu di loker, Richie sudah duluan ada disana.
“Hey.. eum.. maaf dan terimakasih” kata Melanie sambil menyelipkan rambutnya ketelinga.
“Untuk apa?” tanya Richie.
“Maaf karena aku berlari dan mengira dirimu penguntit, terimasih untuk... me menunjukan kelasku”
“Itukan hanya kelasmu, kelasku juga” jawab cuek Richie.
“okay”
“tapi aku belum memaafkan tuduhanmu terhadapku” sinis Richie
“kecuali...”
“kecuali apa?” tanya Melanie.
“ Lupakan..” jawab Richie
Sebulan kemudian, sesuatu mengejutkan Melanie. Terdengar suara pintu dibanting dari kamar sebelah. Mereka pasangan suami istri, selalu bertengkar, tapi tak pernah seheboh ini. Terdengar suara tangisan samar dari wanita, dan suara lelaki yang terus memaki. Melanie teringat kejadian masa kecilnya, hatinya terlalu rapuh dan terlalu rindu ibunya. Ia meneteskan air mata. Ingin ia mengunjungi ayahnya, tetapi ia terlalu malas bertemu dengan perebut suami ibunya. Ia mengurungkan niatnya.
Richie terlalu penasaran dengan Melanie, ia mencari nama Melanie Katheris Ahlers di instagram, facebook, twitter, dan path. Sulit sekali menemukan akun sosialnya. Dia seorang yang introvert pikirnya. Bertemu dikelas dan menanyakan langsung berapa nomor ponselnya terlalu mudah untuk ditebak apa yang diinginkan seorang pria. Richie memikirkan banyak taktik agar bisa mendapatkan nomor ponsel Melanie. Satu-satunya cara adalah mencari berkas Melanie di ruang guru. Tapi itu seperti tindakan kriminal. Tapi dia juga merupakan pelaku kriminal, dia pencuri. Mencuri hati Richie.
Jam terakhir pelajaran Richie menyelinap ke ruang guru. Benar saja, dia mencari berkas Melanie. “Gotcha!” kemudian meninggalkan ruang guru.
Ponsel Melanie berdering. Melanie melihat benda yang berbentuk kotak dengan warna pink pastel, handphone hadiah dari ibunya. Ada telepon masuk dengan nomor tidak dikenal. Melanie mengangkatnya.
“Hai, are you okay?”
Melanie mengenal suaranya. “Richie?”
“Suara seksiku bisa dikenal olehmu” goda Richie
“Suaramu terlalu mudah ditebak”
“Nanti malam kau free? Tanya Richie
“Yup, What’s up?
“Aku ingin memberimu sesuatu yang tersimpan dari dulu”
“dulu? Maksudmu?”
“Nanti kau mengetahuinya”
Richie berjanji dengan dirinya, kalau dia akan memberikan sebuah buku romanis buatannya kepada wanita telah mencuri hatinya. Richie mengendarai mobilnya menuju apartemen Melanie, melesat dengan cepat. Melanie telah menunggu diluar apartemennya.
Richie melamunkan Melanie, ia tak fokus. Truk besar oleng karena kecepatan mobil yang tak dapat dikendalikan. Menambrak mobil Richie. Richie meninggal seketika. Melanie masih menunggu, sampai ada bunyi ponsel. Melanie kira dari Richie ternyata dari orang asing yang memeberi tahu kalau Richie sudah tiada. Melanie termenung. Antara percaya dan tidak. Masih bingung dengan hadiah apa yang akan diberikan richie. Cover buku warna hitam dengan tulisan putih Aku mati bila jatuh cinta masih ada ditangan Richie.